Showing posts with label Elf Book. Show all posts
Showing posts with label Elf Book. Show all posts
[Review] The Reveter
Judul : The Reveter
Penulis : Frida Kurniawati
Editor : Elizabeth
Tata letak : Elizabeth
Desain sampul : Dadan Erlangga
Proofreader : Felis Linanda
Penerbit : Elf Book
Tahun terbit : 2013
Tebal : 236hlm
ISBN : 978-602-19335-9-6
Reveter? Mengelola mimpi? Yang benar saja!
Awalnya Hydra tidak percaya saat Radon dan Calsina memberitahu tentang jati dirinya. Tetapi, ketika kepergian kakek dan neneknya yang mistterius, mau tak mau, Hydra percaya juga.
Namun, Hydra ternyata bukan Reveter biasa. Sebagai keturunan ke-2562 leluhur Reveter, Hydra mewarisi sebuah kalung yang disebut Convoera.
Akakah permusuhan anatara pengikut Auri dan Argento akan terhenti? Sementara tidak semua pihak menginginkan perdamaian tersebut.
Semua tergantung pada usaha Hydra untuk menemukan pemilik pasangan kalung Convoera sebagai syarat perdamaian.
Buku fantasi Indonesia pertama yang saya baca ini
mengagumkan, okelah saya memang belum banyak baca buku fantasi tapi ini sungguh
keren. Semuanya terencana dan dipaparkan apik di 236 halaman. Imajinasinya liar
karena saya aja nggak kepikiran tentang pengolahan mimpi dan dijamin agak tidak
logis. Namun kak Frida tentu bisa membuat itu diterima pembacanya, dengan alur
yang mengalir dan ketidakhadiran istilah yang membingungkan. Cool.
Apa lagi rumah kaca Radon yang punya nicelia steeli, dengan ruangan free season area. Saya juga jadi
pengen punya halaman begitu.
Isinya keren, konflik dan ceritanya oke, sayang, font dan
lay outnya kurang, coba fontnya pake cambria, pasti lebih enak di pandang.
Saya kasih 4/5 bintang buat novel ini ^^
[Review] Happiness Theory
Judul : Happiness Theory
Penulis : Arbie Sheena
Penyunting : Elizabeth
Tata letak : Evi Mulyani
Desain sampul : Dadan Erlangga
Penebit : Elf Book
Tahun terbit : 2013
Tebal : 292 hlm
Harga : Rp39600 (via Bukabuku.com)
ISBN : 978-602-19335-8-9
“Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan materi, asal bisa menikmati hidup dan bersyukur, itu adalah kebahagiaan.” (hlm 269)
Jung Jaehye pindah ke Seoul dan menempati rumah sepert
istana namun bekas bunuh diri. Ketakutannya makin menjadi saat menduduki kursi
di depan seorang wanita dengan pita merah yang tak beremosi bernama Song Hyemi.
Hidupnya makin kacau saat tau bahwa Hyemi membunuh orang yang juga benama
seperti Jaehye yang juga duduk di tempat Jaehye.
Jae Hye akhirnya berteman dengan si mata uang Dong Jun, dan
ikut klub pecinta hewan (kalian akan kaget kegiatannya apa aja) bersama Shinra
dan Bihoon. Hidupnya berubah ketika suatu hari ia menemukan novelette berjudul
Happiness Theory sampai ia harus angkat kaki dari rumah super itu karena
Aboejinya diturunkan jabatan.
Lalu sebuah peristiwa membuatnya terus membaca Happiness
Theory lalu menemukan sebuah fakta menyangkut Song Hyemi dan masa lalunya.
“Makin lama umur sebuah buku semakin mahal juga kata-kata yang tersimpan di dalamnya.” (hlm.138)
Saya suka sekali membaca novel ini, si penulisnya membawa
hawa-hawa komedi di dalamnya, apa lagi teman-teman baru Jaehye yang lucu-lucu
dengan segala kepribadian. Saya ngga bisa berhenti ketawa kalau Jaehye mulai
merumpakan aneh-aneh. Hilarious!
Bagian yang paling saya suka adalah bagian Jaehye dan
teman-temannya di gazebo pas Jaehye berpura-pura jadi Lee Jaehye, lalu saat
mereka meonto video itu. Kocak sekali.
“Percuma saja walau dapat memahami seluruh isi buku. Walau dapat memecahkan masalah yang sulit. Walau menjadi yang paling pintar dalam suatu hal. Tapi jika tidak dapat memahami perasaan orang lain, bukankah manusia hanya akan menjadi binatang yang menyedihkan?” (hlm 138)
Cuman, di pembukaannya berbelit saya sendiri langsung
berpindah halaman.
Diantara buku Elf book yang pernah saya baca, buku ini yang
paling saya suka layout dalamnya dan fontnya, rapih. Apalagi kovernya yang unyu
dan manis itu.
Lumayan banyak nilai moral yang bisa diambil dari novel ini,
tentang rumus kebahagian, keserakahan, keegoisan, harta, tahta, wanita, babe
cabita.
Saya beri 4/5 bintang untuk novel ini ^^
“Setiap mengawali waktu di pagi hari. Jika aku berpikir bahasia, maka sepanjang hari aku akan bahagia. Jika aku berpikir ha yang menyedihkan, maka sepanjang hari aku akan bersedih.” (hlm 229)
[Review] White Lies
Judul : White Lies
Pengarang : Riz Amelia
Penyunting : Evi Mulyani
Tata Letak : Evi Mulyani
Proofreader : Delia Angela
Desain sampul : Dadan Erlangga
Penerbit : Elf Book
Tahun terbit : 2012
Tebal : 316hlm
ISBN : 978-602-19335-4-1
“Cukup mengetahui kau nyaman ketika berada di samping seseorang, kau sudah bisa menyebut itu sebuah cinta.” (hlm 158)
Clara dan Elaine Fawne, saudara kembar yang terpisah karena perceraiaan orang tua mereka. Walaupun berjarak jutaan mil, hubungan keduanya tidak pernah putus. Hingga akhirnya Clara memilih untuk pergi dari Jepang dan menyusul Elaine di Manhattan.
Segalanya berjalan dengan sangat baik.
Namun ketika tanpa sengaja Elaine bertemu Keane Ackley, siapa sangka pertemuan itu justru menjadi awal masalahnya dengan Clara. Kemudian, perlahan kisah kelam saudara kembar itu terungkap.
Pahitnya sebuah kejujuran akan ebih baik dari pada manisnya kebohongan yang mengatas namakan kebaikan. Karena, percayalah, kita kebohongan itu terungkap, semua akan tersakiti.
“Terkadang, untuk menghapus rasa cinta itu kita membutuhkan seseorang untuk menghilangkannya.” (hlm 159)
Saya bingung mau nyeritain dari mana, habisnya rumit banget
kalau dijelasin, tapi blurpnya udah menggambarkan secara jelas alur buku ini,
so saya bakal cerocosin kesan saya waktu baca buku ini.
Awalnya saya kira ini bakal jadi novel fanfic mengeningat si
Elaine itu ngefans banget sama Keane
Ackley, seorang artis, ternyata makin ke belakang, saya menyebut ini klise,
sinetron banget, kaya cerita emak tiri dan anak yang tersakiti di Indonyiar. Konfliknya
pun amat rumit, berbelit, dan seakan semua terjadi begitu
saja, seperti hanya kebetulan. Kebetulan di
novel ini banyak banget, sehingga terkesan really really fiction, terasa
terlalu bermimpi, ya okelah kalau memang ternyata ayah dan ibu Fawne Sister itu
orang tinggi.
“Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Kau hanya perlu percaya bahwa keajaiban pasti akan datang untuk mereka yang percaya.” (hlm 211)
Walaupun begitu, penulisnya menyisipkan secerca-cerca rahasia
kelam Fawne Sister, hebat, saya salut penulisnya bisa sabar nggak langsung
ngebocorin apa sebenarnya yang menyebabkan konfliknya amat berbelit, padahal udah
saya tebak masalahnya tuh cuma bakal kesalahpahaman doang, walaupun cuma
kesalah pahaman doang, karakter-karakternya yang beraneka ragam membuat
kesalahpahaman itu wajar terjadi. Dan wow, ternyata keegoisan kedua orang tua
mereka juga ambil andil lumayan besar di konflik itu.
“Tidak ada alasan untuk membenci siapapun.” (hlm 269)
Waktu awal baca, saya sebel banget sama si Clara ini, dia
emang kaku dan membohongi Elaine, kak Riz, lewat karakter Clara membuat pembaca
terguncang emosinya. Tapi, setelah saya tau penyebabnya, saya malah hampir
nyalahin Elaine yang nggak tau apa-apa karena mengalami amnesia parsial. Di situ
saya dibuat kagum dengan sifat Clara yang sesungguhnya. Juga ada Kris—sahabat Elaine,
saya rasa dia cukup kurang kerjaan karena menurut saya dia terlalu mencampuri
urusan Clara-Elaine.
“… ada hal-hal tertentu yang memang seharusnya menjadi rahasia atau tetap menjadi sebuah kebohongan manis.” (hlm 305)
Bab demi bab saya lewatkan sambil beroh-oh pura-pura
ngerti, yang tadinya benang kusut, terurai perlahan, namun pasti terselesaikan,
karena pada dasarnya, setiap masalah itu punya solusi, kan? Begitu juga novel
ini, walaupun diakhiri dengan sedih bercampur senang, saya banyak belajar dari
novel ini tentang keegoisan, terharu sendiri jadinya.
Secara keseluruhan, saya beri 3,7/5 bintang ^^
[Review] Rubrik Kata Katya
Judul : Rubrik Kata Katya
Penulis : Primadonna Angela
Penyunting : Elizabeth
Tata letak : Elizabeth
Desain sampul : Dadan Erlangga
Penerbit : Elf Book
Tahun terbit : 2013
Tebal : 194hlm
ISBN: 978-602-19335-7-2
“Tumbuh dewasa tidak bisa dalam sekejap. Ada prosesnya. Menjadi dewasa bukan berarti menolak bantuan orang lain, tapi tahu kapan meminta tolong, kalau memang perlu.” (hlm 142)
Katya, seorang remaja berumur 16 tahun masih dilarang
berpergian sendirian. Oleh karena itu, orang tuanya memerintahkan Diko,
tetangga sekaligus teman semasa kecilnya untuk menemani Katya.
Katya lelah dianggap bayi, ke mana-mana pasti ada Diko. Pada
suatu hari saat Katya tanpa sengaja bertemu Nando, Nando bahkan menawari Katya
untuk mengasuh rubric konsultasi di sebuah majalah remaja. Dia menyambut itu
antusias dan bakal membuktikan kepada keluarganya bahwa ia bisa mandiri.
“Dan menjadi dewasa, berarti bersedia mengakui kesalahan dan menerima konsekuensinya.” (hlm 142)
Awal baca novel karya Primadonna Angela ini, terlihat klise,
penjabaran panjang di pembukaan terasa kurang pas, karena terlalu banyak
menggunakan tanda seru, apalagi di kalimat yang saya rasa tidak perlu pake
tanda seru, saya jadi ngira penulisnya lagi PMS saat itu. Terus, penggunaan
panggilan Katya ke Tatyana sangat dipaksakan, si Katya manggil kakaknya dengan
Teteh, okelah, wajar, latarnya di Bandung, tapi agak aneh saat narasi yang juga
pake ‘Teteh’, mungkin lebih enak pake namanya saja karena pake sudut pandang
tiga jadinya enak dan nggak terasa
maksain. Juga tebal novel yang nggak setebal lemak saya … maksudnya terlalu
tipis gitu, padahal kalo dipanjangin lagi pasti bakal asik.
Dibalik itu semua, saya merasakan perkembangan dari awal
pembukaan sampai ke konflik, narasinya jadi oke, alurnya makin kece. Pembawaannya
kekinian dan remaja banget, riset tentang majalah dan deskripsi kantor
majalahnya juga kece, saya suka. Komposisinya juga seimbang, nggak
bertele-tele, istilahnya sih SPJE, singkat padat jelas dan efisien. Dan
kesingkatan novel ini lah yang bikin ceritanya nggak meluber ke mana-mana,
maksudnya pas gitu lho. XD
“Karena itulah fungsi cinta pertama, seseorang yang akan kamu kenang, penuh sayang, seseorang yang sempurna karena kamu tahu, sampai kapan pun kamu takkan bisa memilikinya seutuhnya.” (hlm 187)
Novel ini sangat cocok bagi remaja yang berumur >13,
pelajarannya banyak banget, apalagi di zaman sekarang yang lagi dalam fase
puncaknya kriminalitas.
Bagian yang paling saya suka adalah bagian akhir saat
‘semua’ terbongkar, saya suka, alasan Diko yang Tatyana bilang, sangat manis.
Latar belakang alasan proteksi berlebihan Katya juga masuk akal. Tapi, bagian
akhir bikin saya sedih, Dikonya kaga dibawa-bawa lagi, padahal udah ngarep
pengen punya tetangga kaya Diko TT-TT. Saya juga ngerepin endingnya Diko bakal
makin deket sama Katya tapi …
“Karena proses patah hati merupakan katalis pendewasaan yang sempurna.” (hlm 188)
Kalimat favorit yang ngena hati :
“Mungkin pada dasarnya manusia tidak ditakdirkan bisa
memegang kendali.” (hlm 146)
“Harga pelajaran ini terlampau mahal.” (hlm 146)
“Memang pahit menyadari dirimu mungkin bersalah dan harus
meminta maaf.” (hlm 167)
“ … Tumbuh besar itu menyakitkan.” (hlm 168)
“Karena itulah salah satu harga dari kedewasaan.
Berpura-pura bahagia, padahal ada bagian dalam dirimu yang mungkin tidak rela.”
(hlm 183)
Overall, saya beri 3,5/5 bintang untuk Rubrik Kata Katya.
Subscribe to:
Posts (Atom)




