Showing posts with label Fantasy. Show all posts
Showing posts with label Fantasy. Show all posts

[Review] Half Wild by Sally Green

0
COM
Via iJak

Gadis yang dicintai Nathan menghilang. Gadis itu mungkin telah mengkhianatinya. Namun, Nathan ingin mencarinya, menemukannya, dan tak pernah berhenti.

Para penyihir putih terus memburunya. Penyihir hitam tak henti berusaha menyingkirkannya.

Setelah menerima Anugerah dari sang Ayah, Nathan pun menjadi ancaman.
Anugerah itu tak bisa dikendalikannya.
Di tengah perang antara penyihir putih dan hitam, bahaya terbesar yang mengancamnya ada pada dirinya sendiri.

[Review] The Queen Must Die

0
COM
The Queen Must Die (Chronicles of Tempus, #1)

Penulis : K. A. S Quinn
Penerjemah : Ambhita Dhyaningrum
Editor : D. Liana
Redesign : Fatichah Eri
Relayout : Tri Mulyani Ch.
Penerbit : Metamind (imprint Tiga serangkai)
Taun terbit : 2011
ISBN : 978-602-985-497-8

KATIE Berger-Jones-Burg, tiba-tiba terlempar ke zaman Ratu Victoria, saat terbangun ia malah dikira sebagai pembunuh yang hendak menuntaskan kehidupan sang Ratu. Terlemparnya dia ke abad 19 itu menghasilkan banyak tanda tanya. Namun, putri Alice yang baik serta James O’Relly yang menyebalkan merawat dan menemani Katie dengan baik.
Sampai pada satu titik di mana petualangan dimulai, sampai harus merenggut nyawa wanita tak bersalah. Katie harus bertahan dan mencoba mengungkap siapa dibalik semua ini. Siapakah orang berniat jahat itu? Apakah kau?
---

Ini adalah buku pertama dari seri Gadis Penjelajah Waktu, yang seri keduanya sudah gue review duluan. Secara keseluruhan, gue lebih suka buku pertama ini dibanding dengan buku kedua, proses Katie mengungkap penyebab dia terlempar ke abad 19 sangat mengasyikkan. Setiap scene-nya dibuat mendebarkan dan lembut. Proses James menerima Katie juga nggak kalah menarik. Proses, di mana-mana memang mengasyikkan.

Dibuku pertama ini, pembaca ngga Cuma diajak berpetualang dengan Katie, Alice dan James, pembaca juga (Include me) diajak mengetahui sejarah zaman Victoria. Ratu Victoria memang punya anak bernama Alice dikehidupan nyata, juga Ratu yang menyayangi Pangeran Alberth sepenuh hati, tak lupa istana kristal memang ada di dunia ini, Cuma beberapa abad yang lalu.

Yang gue suka banget dari buku ini adalah alurnya, suka banget, pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak Katie dan lain-lain. Baca buku ini, gue jadi sadar kalau kebenaran belum tentu berarti kebaikan. Well, masih banyak hikmah yang bisa diambil dari buku ini, tentang kebenaran dan kebaikan.

Karakter yang gue suka adalah Bernardo DuQuelle, meskipun penuh misteri tapi omongannya terasa benar, tentang politik dan dunia. Gue ngebayangin kalau DuQuelle itu V di V For Vendetta, keren binggo.

Scene yang paling gue suka adalah bagian klimaksnya, saat percobaan pembunuhan Mama Alice, adegan Katie yang pura-pura jadi uskup hampir ketahuan karena salah duga.

Overall, 4/5 bintang untuk novel ini

[Review] The Reveter

0
COM

Judul : The Reveter
Penulis : Frida Kurniawati
Editor : Elizabeth
Tata letak : Elizabeth
Desain sampul : Dadan Erlangga
Proofreader : Felis Linanda
Penerbit : Elf Book
Tahun terbit : 2013
Tebal : 236hlm
ISBN : 978-602-19335-9-6

Reveter? Mengelola mimpi? Yang benar saja!
Awalnya Hydra tidak percaya saat Radon dan Calsina memberitahu tentang jati dirinya. Tetapi, ketika kepergian kakek dan neneknya yang mistterius, mau tak mau, Hydra percaya juga.
Namun, Hydra ternyata bukan Reveter biasa. Sebagai keturunan ke-2562 leluhur Reveter, Hydra mewarisi sebuah kalung yang disebut Convoera.
Akakah permusuhan anatara pengikut Auri dan Argento akan terhenti? Sementara tidak semua pihak menginginkan perdamaian tersebut.
Semua tergantung pada usaha Hydra untuk menemukan pemilik pasangan kalung Convoera sebagai syarat perdamaian.

Buku fantasi Indonesia pertama yang saya baca ini mengagumkan, okelah saya memang belum banyak baca buku fantasi tapi ini sungguh keren. Semuanya terencana dan dipaparkan apik di 236 halaman. Imajinasinya liar karena saya aja nggak kepikiran tentang pengolahan mimpi dan dijamin agak tidak logis. Namun kak Frida tentu bisa membuat itu diterima pembacanya, dengan alur yang mengalir dan ketidakhadiran istilah yang membingungkan. Cool.

Apa lagi rumah kaca Radon yang punya nicelia steeli, dengan ruangan free season area. Saya juga jadi pengen punya halaman begitu.

Isinya keren, konflik dan ceritanya oke, sayang, font dan lay outnya kurang, coba fontnya pake cambria, pasti lebih enak di pandang.


Saya kasih 4/5 bintang buat novel ini ^^

[Review] Half Bad

2
COM
Judul : Half Bad (Half Life trilogy 1)
Penulis : Sally Green
Penerjemah : Reni Indardini
Penyunting : Rina Wulandari
Penyelaras aksara : Nunung Wiyati
Penata aksara : Axin Makruf
Desain sampul : Fahmi Ilmansyah
Penerbit : Mizan Fantasi
Tahun terbit : 2015
Tebal : 430hlm
ISBN : 978-602-1606-98-8


Dia berbeda. Tak diinginkan, tapi diburu.Ibunya penyihir putih penyembuh, ayahnya penyihir hitam pembunuh.Dia hidup dalam kurungan sejak usia empat belas tahun, karena dunia takut akan kekuatannya.Dalam dunia penyihir yang terbagi menjadi hitam dan putih, dia harus bertahan sendiri.Yang perlu dua lakukan hanyalah melarikan diri, mencari seorang penyihir hitam bernama Mercury.Mercury bisa saja menolongnya atau membunuhnya.Namun, dia harus mengambil resiko itu.

One word : amazing. Begitu saya menerima paket dari Noura, saya memekik girang karena tebalnya sama dengan tumpukkan lemak saya. Tentu kebahagiannya itu nggak hilang setelah membaca buku fantasi ini, kalau saya nggak punya malu, mungkin saya udah manjat kubah masjid sambil teriak-teriak. Buku ini keren banget, sekali. Memang konflik utamanya tidak ditampilkan di buku ini, Half Bad menyajikan awal dari perjuangan Nathan yang begitu perih, bayangkan anak berumur 13 tahun harus disayat punggungnya, dibully dan segala hal tidak menyenangkan. Apa lagi menginjak umur 14 tahun dia dipenjarakan oleh Dewan. Lalu sejarah ibunya—penyihir putih penyembuh—bisa punya anak dari Marcus, ayah Nathan yang seorang penyihir hitam. Hukum makan sebelum dimakan sangat kentara di situ.

Apalagi kisah si Nathan ini diceritakan dari berbagai sudut pandang, woah.
Buku ini mengajarkan kita untuk tidak percaya sesorang dengan mudahnya, tapi bagaimana kita tau bahwa orang itu bisa dipercaya atau tidak? Seorang Gabriel, suruhan Mercury berkata,”Seseorang pernah berkata bahwa cara terbaik untuk mencari tahu apakah kita bisa memercayai orang adalah dengan memercayai orang itu.” Saya tersentuh.

From this book, I can conclude that … pendapat pandangan seseorang itu relatif. Dari buku ini, penyihir putih yang katanya suci dan tidak membunuh itu ternyata membunuh dan jahat bagi korbannya. Apa lagi pemburu penyihir putih, bukankah mereka sama saja membunuh, kan?

Lalu tak selamanya penyihir hitam itu jahat, bagi sebagian orang yang kenal sangat dengan seorang penyihir hitam pasti tak akan mengklaim penyihir hitam jahat. Di dunia ini (dunianya Half Bad maupun dunia nyata yang ada Nicky Minajnya) nggak ada orang yang benar-benar suci, kan? Nggak ada di dunia ini yang benar-benar ‘benar’. Semua pasti punya kesalahan dan kekurangan masing-masing. Jadi saya nggak terlalu suka dengan cara pembagian penyihir, padahal mereka sama-sama penyihir. *abaikan paragraf ini*

Saya jadi ngebayangin Marcus itu mirip dengan Vlad di Dracula Untold, lebih gelap dari kegelapan. Lalu ngebayanin kalau Nathan itu seperti adik kelas saya yang ompong tengah.
Oh ya novel ini nggak nyangkut penyhir-penyihiran atau Cuma tentang kegelapan, namun ada sisi romantisnya juga lho, apalagi waktu Nathan cium jari-jari Annalies di atas bukit.

4,7/ 5 untuk novel ini <3<3


“Jalannya cinta sejati memang tak pernah mulus.” (hlm 374)

P.s yang bingung cari buku ini bisa dibeli di mana, bisa dilihat di sini  terima kasih ^^

[Review] The Queen At War

2
COM
Judul : The Queen At War
Penulis : K.A.S Quinn
Penerjemah : Ambhita Dhyaningrum
Editor : D. Liana
Desain sampul : Rendra TH
Desain isi : Rendra TH
Tata letak : Tri Mulyani Ch.
Penerbit : Metamind (imprint of Tiga Serangkai)
Tebal : 354hlm
ISBN : 978-602-9251-20-3
“Kematian mungkin adalah berkah manusia yang tertinggi.” (Hlm 193)

K.A.S Quinn lahir dan besar di California, ia belajar sejarah di Universitas Vassar. Selama sepuluh tahun, ia memimpin majalah spectator. Ia menulis untuk The Times, Telegraph, Independent, Wall Street Journal, pun muncul di Any Questions, A Good Read, Famous Lives, serta Broadcasting House untuk BBC. Dia dan suaminya tinggal di London dan memiliki dua puta cilik. Dia masih membaca buku anak di tempat tidur setelah lampu dimatikan, dengan hanya menggunakan senter.

Katie, seorang gadis biasa yang tinggal di New York abad 21. Lalu sosok-sosok aneh mulai bermunculan di hadapannya, pria bertopi hitam, gadis berambut merah kriting menghantuinya dan sebuah pesan misterius yang membawanya melesat ke masa lalu.

Di masa lalu, di mana Pangeran Alberth dan Ratu Victoria memerintah sedang dalam masa sulit karena hampir berperang dengan Rusia, bukan perang antara dua kubu biasa, itu adalah perang yang akan menyangkut seluruh dunia. Katie adalah harapan bagi semua orang. Namun, sebagai gadis yang datang dari masa depan, dia melesat terlalu cepat.

Kebetulan Time Line penuh dengan promosi novel tentang perjalanan waktu, saya jadi teringat novel ini lalu mulai menikmati kisah-kisah Katie yang begitu rumit.


Saya suka cara membuat pembaca terheran-heran, mulai dari pembukaannya yang dimulai dengan James yang mengobati kakaknya, Grace di abad 19. Lalu berlanjut pada bab yang menggambarkan Katie di abad 21. Sepotong-sepotong jawaban dicecerkan begitu apik, menjadi umpan untuk pembaca. Lalu pengangkatan tema yang wah, ‘petualangan menjelajah waktu’, sangat unik, apa lagi kisah di dalamnya menyangkut sejarah peperangan masa dulu, tentunya dengan bumbu masa lampau yang terasa sedap. Begitu juga ikatan antara Katie-James-Alice Princess yang kuat. Begitu membuat novel ini terasa hidup.

Sayangnya, terjemahannya kurang bagus, sukar dimengerti, terlalu banyak kata-kata yang asing. Narasinya juga kadang berbelit, antara kata satu dengan kata yag lain tidak sinkron. Dan juga bertele-tele. Anggapan pertama saya, klimaksnya bakal mendebarkan seperti adegan penghunusan pedang atau pelemparan meriam antar Tempus, namun saya kecewa, klimaksnya tidak seapik yang saya ekspetasikan.
“Terkadang, obat lebih  buruk dari penyakitnya.” (hlm 207)
Tapi, novel ini membuat perasaan terkoyak pada bagian akhir, di mana Katie-James-Alice kembali ke Buckingham dan menemui Bernardo DuQuelle, ikatan mereka makin terasa di sini, saling tidak mau berpisah tapi Katie teringat New York dan Ibunya yang mungkin dalam keadaan darurat. Perpisahan tak bisa dihindarkan.

Bagian yang paling saya suka adalah bagian perpisahan dan setiap bagian Katie mengingat Mimi, apa lagi ketika di rumah Bernardo DuQuelle, Katie sangat menyayangi ibunya dan itu digambarkan cantik dan cerdas.

Sampulnya pinky-pinky imut dan manis, ditambah ilustrasi meriam, kuda, 3 manusia yang berlari yang terkait dengan isinya.


Saya beri 3,9/5 untuk novel ini ^^