Showing posts with label PBBP2016. Show all posts
Showing posts with label PBBP2016. Show all posts
[Wrap Up] Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016
Dalam setahun ini, saya memang ngga jarang mengunjungi Perpus dan minjamin bukunya, hanya saja, fatal, saya lupa fotoin buku-buku yang saya pinjam dari sana :" padahal kalau diitung banyak banget ... apa lagi ditambah foto-foto yang belum terupload dari laptop yang sedang proses perbaikan, jadi sepertinya kali ini saya cuma bisa setor beberapa. Juga akhir-akhir ini saya lebih sering baca buku perpus digital jadi sepertinya bakal dikit. Oke nggak apa-apa.
[Review] And Then by Yuli Pritania
Label:
#POSTBAR,
Grasindo,
PBBP2016,
Review 2016,
Serang Book Worm
·
Diposkan oleh
The Kamo Book Blog
di
3:50:00 AM
Editor : Cicilia Prima
Penata isi : Yusuf Pramono
Penerbit : Grasindo
Tahun terbit : 2015
ISBN : 9786023751839
Pada usia 14:
aku membenci sosok gadis kecil bergaun kuning yang mengintip dari balik punggung ibunya dengan malu-malu.
Pada usia 22:
aku jatuh cinta pada sosok gadis remaja yang duduk di pinggir jendela bus, tampak getir dan ketakuran terhadap dunia.
Pada usia 30:
aku berniat memorakporandakan hidup seorang artia muda yang sedang naik daun, artis paling dipuja sekaligus paling dicaci di Korea.
Tujuan hidupku hanya satu:
membalaskan dendam untuk 14 tahun awal hidupku yang terbuang sia-sia.
Masalahku hanya satu:
ketiga gadis dalam hidupku itu adalah satu orang yang sama. Lee Jung-Ha.
[Review] Adonis ; Cinta dan Kesederhanannya
Label:
Bentang Pustaka,
PBBP2016,
Review 2016,
Serang Book Worm
·
Diposkan oleh
The Kamo Book Blog
di
2:41:00 AM
Judul : Adonis
Penulis : Ambhita Dhyaningrum
Editor : Fitria Sis
Pemeriksa aksara : Deni dan Andan
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : 2015
Tebal : 218hlm
ISBN : 9786022910756
Ambhita Dhyaningrum, mantan editor in house yang putar
haluan menjadi penulis, penerjemah dan editor lepas sejak 2009. Dia telah
melahirkan beberapa karya, salah satunya adalah Adonis, yang menjadi pemenang
ke dua Lomba Novel Wanita Dalam Cerita. Salut ya guys!
Oke, klise mungkin. Tapi itulah yang saat ini bisa kulakukan. Membiarkan hati ini terobati dengan sendirinya. Dan membuka hati ini untuk siapapun yang ingin singgah di dalamnya.
Jangan katakan aku single mother yang patah hati parah. Tapi kalau ditanya apakah aku merindukan sosok lelaki yang jujur dan tulus mencintaiku? Dengan berat hati kujawab, iya tepat sekali.
Lantas, saat sebuket bunga selalu rajin datang di cubicle-ku setiap pagi dan surel puisi cinta tidak pernah absen singgah di surel-ku. Apakah aku harus berbunga-bunga, karena sebentar lagi akan merasakan cinta?
Ya, mungkin seharusnya seperti itu, kalau si pengirim bunga dan puisi itu tidak menyembunyikan identitasnya
Sinopsis
Lea, seorang karyawati yang kini menjadi single mother,
bukanlah keinginannya untuk memisahkan Kira anaknya dengan Alfa, mantan
suaminya. Setelah perpisahannya dengan Alfa, kehidupan Lea terus berjalan dan
sampai pada suatu waktu, dia mulai mendapat kiriman puisi, juga buket bunga
lili putih di atas meja kubikelnya. Awalnya ia mengira bahwa kiriman puisi atas
nama Adonis itu adalah dari Alex, teman sekantornya di bidang IT, sahabatnya
sangat yakin karena dia menemukan buku puisi di atas mejanya. Akhirnya dia
meminta pertolongan Dante, seorang pekerja di bidang IT, untuk melakukan
pelacakan seadanya.
Masalah puisi dan bunga lili putih belum selesai, datang
Alfa yang mengaku sudah berubah dan menginginkan bersama demi Kira. Akankah Lea
tau siapa si Adonis dan pengirim bunga lili, serta bagaimanakah kelanjutan
hubungan Lea dengan Alfa?
Review
Bagaimana sih rasanya jadi single mother? Novel ini berlatar
belakang pernikahan dan tokoh utamanya adalah single mother. Buat yang ingin
tahu rasa jadi ‘berjuang sendirian’ sangat dianjurkan baca buku ini, maupun
yang ngga kepengen tau rasa jadi ‘berjuang sendirian’. Menyelami dunia asmara
Lea cukup seru, degan pembawaannya yang kalem dan formal bikin novel ini
high-class ditambah sampulnya yang cukup eye catching (karena saya baca liat
sampulnya dulu haha).
Alurnya, seingat saya sih maju ya, mundurnya hanya sedikit
pas dia mengulang memori saat masih menyandang status Mrs. Alfa. Karakternya
bisa saya bilang biasa saja, karena tidak membuat saya sampai menuliskah nama
tokoh di jendela pendingin minuman di mini market. Tapi ada satu tokoh yang
membuat saya meyakinkan diri untuk konsisten berlari di rute yang benar. Dante.
Dia yang membuat saya tergugah, cowo yang ngajak ke masjid emang ngga kalah
kerennya dengan cowo yang lain J
Hanya saja, pas buka buku ini, dan membaca prolog, ada keengganan
hati untuk melanjutkannya tapi karena tekad menghabiskan buku perpus daerah
(huehehe) saya paksa sampai habis, dan ternyata, pada pertengahan, saya rasa
pada bab ke 15, saya ngga merasa terpaksa baca ini, malah saya pikir hadirnya
Dante bikin saya terus baca ini hingga akhir. Hingga saya kebelet nikah.
Bacaan tentang keluarga memang selalu membuat hati hangat,
dan betah berada di rumah bersama berlusin box pizza. Mbak Dhyan mengetuk hati
pembaca lewat Adonis dan menyampaikan bahwa takdir telah menunggu dan akan
selalu datang tepat waktu. 3 bintang!
[Review] Re-Write by Emma Grace
Label:
GPU,
PBBP2016,
Review 2016,
Serang Book Worm
·
Diposkan oleh
The Kamo Book Blog
di
3:53:00 AM
Ye miring
Penulis : Emma Grace
Editor : Tri Saputra Sakti
Dasain sampul : Eduard Iwan
Penerbit : Gramedia
Tahun terbit : 2015
Tebal : 256hlm
ISBN : 9786020321158
blurp
Kehidupan Beth Samodro berjalan seperti layaknya gadis berumur dua puluh tahun. Ia kuliah di Sydney. Memiliki keluarga yang sayang padanya. Jatuh cinta luar biasa pada laki-laki yang telah ia kenal sejak sekolah menengah di Jakarta.
Perjalan hidup Derick Bhrasongko dimulai dari kota Sydney. Ia lahir dan besar di kota tersebut. Ia tak suka pada orang Indonesia. Masa lalu telah mengajarnya untuk membenci gadis lemah yang hanya bisa menganggukkan kepala dan menurut pada orang lain, atas nama cinta.
Beth dan Rick memiliki latar belakang dan pribadi yang berbeda. Kesamaan di antara mereka hanyalah sama-sama menyimpan rahasia kelam yang membebani langkah mereka saat ini. Kedua manusia yang tak pernah cocok untuk bersama dalam kondisi apa pun. Lalu pada satu persimpangan, jalan mereka bertemu.
Dan garis hidup berkata lain
“Ketika kau mencintai seseorang, terluka adalah syaratnya. Itu adalah harga yang harus dibayar. Kau akan terluka oleh dan karena orang yang kaukasihi.”—Beth.
ReviewSinopsisnya sudah terpampang jelas ya di blurp, dan saya rasa bagi yang punya imajinasi liar atauy sudah pro dalam hal novel beginian pasti nebak-nebak goalsnya gimana. Oke, saya sebenarnya juga sudah menerka-nerka endingnya bagaimana tapi sungguhan saya ngga menyesal sama sekali.
Mari kita bicarakan alurnya, ada selipan flashback di sini, saya tidak mempermasalahkan itu. Untuk penokohannya, saat baca rasanya saya sudah mencium aroma Emma Grace banget, karakternya mirip-mirip lah dengan karakter Pay It Forward (Sila baca reviewnya di sini). Let me introduce Beth, Namanya Elizabeth, dia tinggal di Australia bareng Sheila, kakaknya. Karakternya entah kenapa saya merasa ada kemiripan dengan karakter Gitta. Ada juga Derick, yang blasteran Indo-Aussie, punya something in the past (Alwasys ya saya rasa, karena masa lalu itu bumbu kehidupan) karakternya bisa dikatakan dark. Ada juga Jared, maaf kalau saya bilang dia trash, dia adalah sahabat Beth, well i named he gold digger. Tidak seperti di Pay It Forwar, di Re-Write, ada peran antagonisnya.
Pembawaannya sendiri saya suka, just like Emma all the time. Pembawaannya yang formal, hangat dan manis. Dia membuat cerita yang menurut saya biasa aja, tapi bikin saya nggak berhenti sampai akhir. Di buku ini, dia juga menyelipkan 'keluarga' yang mana Emma banget (Entahlah saya merasa telah mengenal tulisannya) diselipin juga rasa kehilangan dan akibat dari semua itu. Faktor yang membuat hanganya novel ini saya rasa adalah bahasan tentang keluarga.
Porsi romantis-keluarga 50:50, seimbang sehingga tidak membuat novel ini putar haluan. Saya dapat feel dari Derick dan Jared, of course, untuk Jared feelnya beda, tapi emosi tersampaikan kepada saya saat membaca, cerita Re-Write ini mengaduk perasaan, bahagia, sedih, kesal dan blush silih berganti mambuat pembaca takjub.
Novel ini juga mengajak saya untuk berpikir dan merasa, sekedar berpikir apakah yang didekat kita benar-benar tulus atau tidak, berpikir mengenai arti kehilangan dan dampak dari itu, juga berpikir bagaimana kaus kaki punya hubungan dengan ketakutan terhadap badut.
Hanya saja, ada beberapa kesalahan teknis di mana seharusnya kata "samar" tapi ditulis "sa_mar", dan ada juga font penulisan narasi yang malah ikut ke surat. Tapi itu bukan masalah serius karena novel ini sungguhan keren!
[Review] Reputation by Tessa Intanya
Label:
Challenge,
PBBP2016,
Review 2016,
Serang Book Worm
·
Diposkan oleh
The Kamo Book Blog
di
11:42:00 AM
GLAM GIRLS. YOU WILL LOVE US—WE PROMISE.
Kamu melihat kami berkilauan setiap hari. Tatanan rambut kami selalu sempurna, bahkan sejak bangun tidur. Kamu bilang, kami mengeja ‘Chanel’, ‘Fendi’, dan ‘Prada’ lebih cepat daripada ‘Geometri’. Menurutmu, kami cantik—dan diam-diam benci setengah mati karenanya. Kadang, kamu juga berharap kamulah yang dikerumuni cowok-cowok itu—bukan kami. Malamnya, dalam doa kamu bertanya, kenapa Tuhan bisa sebegitu nggak adilnya.
But, here’s the truth. Setiap pagi, kami ngabisin waktu lebih lama di depan cermin karena kami sadar, penampilan glamor nggak sesederhana Miley Cyrus make wig pirang dan, poof, jadilah Hannah Montana. Kami bisa juga kok mengeja ‘Geometri’—meskipun JARANG BANGET make kata itu dalam percakapan sehari-hari. Dan tentang cantik... well, itu anugerah. Kalo kamu benci kami karena sesuatu yang dibawa sejak lahir, apa akan adil kalo kami juga membencimu karena pintar? Dan tentang cowok-cowok itu, kamu nggak tahu kan kadang-kadang mereka bisa jadi sangat posesif dan menyusahkan.
Jadi gimana, masih berani bilang Tuhan itu nggak adil?
Sebelum baca buku ini, saya sudah baca varian yang Unbelievable dan satu lagi saya lupa judulnya. Buku ini ditulis lewat sudut pandang Rashi, yang lalim, jutek, bossy dan sebagainya. Rashi merupakan siswi Voltaire, dia itu--queen-- i name it. Di sekolah internasional macam Voltaire, pertemanan tulus bisa dianggap mitos dan harta paling sulit dicari, meski mereka semua orang kaya tapi mereka juga ngga sembarang cari teman.
Susah memang kalau ngga diawali dari kita sendiri, kaya Rashi, dia ngga mau asal pilih teman, salah satu cliquenya didepak, yap MT si backstabber, dan posisi MT digantikan Adriana, cewek nerd. Setelah banyak masalah menghampirinya, apa lagi dengan tulisan-tulisan para haters, kini ganti, masalah keluarga Pradokso yang membuatnya kesal tujuh turunan, apa lagi ditambah dengan Lucas dan Arian tentunya (itupun kalau Arian masuk list 'masalah'). Mampukah Rashi bertahan?
Just like other Glam Girls novel, this one is so amazing. Membuat saya jatuh cinta, dan membenci kehedonismean. Novel ini menguak keseluruhan hidup Rashi, yag ngga kita ketahu sebelumnya pada buku Glam Girls lainnya. Rashi, si queen be, meskipun terlihat flawless, namun dia juga punya sisi gelap.
Rashi karakternya lebih kuat dan lebih menyebalkan jika saya baca di novel ini, saking kuatnya karakter dia, dibeberapa bagianpun Rashi bisa bikin saya ngerasa 'kasihan' dengan dia. Kadang saya pengen peluk dan bilang semangat, Ras, tapi satu waktu pengen juga ngubur da hidup-hidup. Singkat kata, penulisnya sukses mengaduk-aduk perasaan pembaca.
Saya ngga akan banyak komentar tentang novel ini, karena sama saja dengan seri Glam Girls yang pernah saya review. Saya sih nggak baper baca novel ini. B aja, cuma novel ini keren kok, saat yang lain meggunakan tokoh antagonis sebagai pendukung, (Menurut saya Rashi jahat), novel ini pake tokoh jahat sebagai centre.
Judul: Reputation
Seri: Glam Girls #2
Penulis: Tessa Intanya
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: I, 2009
Tebal: x + 346 hlm
ISBN13: 9789797803209
Subscribe to:
Posts (Atom)




