[Review] White Lies
Judul : White Lies
Pengarang : Riz Amelia
Penyunting : Evi Mulyani
Tata Letak : Evi Mulyani
Proofreader : Delia Angela
Desain sampul : Dadan Erlangga
Penerbit : Elf Book
Tahun terbit : 2012
Tebal : 316hlm
ISBN : 978-602-19335-4-1
“Cukup mengetahui kau nyaman ketika berada di samping seseorang, kau sudah bisa menyebut itu sebuah cinta.” (hlm 158)
Clara dan Elaine Fawne, saudara kembar yang terpisah karena perceraiaan orang tua mereka. Walaupun berjarak jutaan mil, hubungan keduanya tidak pernah putus. Hingga akhirnya Clara memilih untuk pergi dari Jepang dan menyusul Elaine di Manhattan.
Segalanya berjalan dengan sangat baik.
Namun ketika tanpa sengaja Elaine bertemu Keane Ackley, siapa sangka pertemuan itu justru menjadi awal masalahnya dengan Clara. Kemudian, perlahan kisah kelam saudara kembar itu terungkap.
Pahitnya sebuah kejujuran akan ebih baik dari pada manisnya kebohongan yang mengatas namakan kebaikan. Karena, percayalah, kita kebohongan itu terungkap, semua akan tersakiti.
“Terkadang, untuk menghapus rasa cinta itu kita membutuhkan seseorang untuk menghilangkannya.” (hlm 159)
Saya bingung mau nyeritain dari mana, habisnya rumit banget
kalau dijelasin, tapi blurpnya udah menggambarkan secara jelas alur buku ini,
so saya bakal cerocosin kesan saya waktu baca buku ini.
Awalnya saya kira ini bakal jadi novel fanfic mengeningat si
Elaine itu ngefans banget sama Keane
Ackley, seorang artis, ternyata makin ke belakang, saya menyebut ini klise,
sinetron banget, kaya cerita emak tiri dan anak yang tersakiti di Indonyiar. Konfliknya
pun amat rumit, berbelit, dan seakan semua terjadi begitu
saja, seperti hanya kebetulan. Kebetulan di
novel ini banyak banget, sehingga terkesan really really fiction, terasa
terlalu bermimpi, ya okelah kalau memang ternyata ayah dan ibu Fawne Sister itu
orang tinggi.
“Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Kau hanya perlu percaya bahwa keajaiban pasti akan datang untuk mereka yang percaya.” (hlm 211)
Walaupun begitu, penulisnya menyisipkan secerca-cerca rahasia
kelam Fawne Sister, hebat, saya salut penulisnya bisa sabar nggak langsung
ngebocorin apa sebenarnya yang menyebabkan konfliknya amat berbelit, padahal udah
saya tebak masalahnya tuh cuma bakal kesalahpahaman doang, walaupun cuma
kesalah pahaman doang, karakter-karakternya yang beraneka ragam membuat
kesalahpahaman itu wajar terjadi. Dan wow, ternyata keegoisan kedua orang tua
mereka juga ambil andil lumayan besar di konflik itu.
“Tidak ada alasan untuk membenci siapapun.” (hlm 269)
Waktu awal baca, saya sebel banget sama si Clara ini, dia
emang kaku dan membohongi Elaine, kak Riz, lewat karakter Clara membuat pembaca
terguncang emosinya. Tapi, setelah saya tau penyebabnya, saya malah hampir
nyalahin Elaine yang nggak tau apa-apa karena mengalami amnesia parsial. Di situ
saya dibuat kagum dengan sifat Clara yang sesungguhnya. Juga ada Kris—sahabat Elaine,
saya rasa dia cukup kurang kerjaan karena menurut saya dia terlalu mencampuri
urusan Clara-Elaine.
“… ada hal-hal tertentu yang memang seharusnya menjadi rahasia atau tetap menjadi sebuah kebohongan manis.” (hlm 305)
Bab demi bab saya lewatkan sambil beroh-oh pura-pura
ngerti, yang tadinya benang kusut, terurai perlahan, namun pasti terselesaikan,
karena pada dasarnya, setiap masalah itu punya solusi, kan? Begitu juga novel
ini, walaupun diakhiri dengan sedih bercampur senang, saya banyak belajar dari
novel ini tentang keegoisan, terharu sendiri jadinya.
Secara keseluruhan, saya beri 3,7/5 bintang ^^
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
3.7/b bintang yah? Hmm.. entaran, deh. Nunggu kelar baca semua serial supernova dee lestari. :)
ReplyDeleteYap setuju, mending kelarin dulu Supernova dulu :)
Delete